bejatikoran

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

FKIP Uninus Ngayakeun Seminar Nasional Pendidikan

Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Islam Nusantara (Uninus) ngayakeun seminar nasional pendidikan myokot tema “Membangun Karakter Bangsa Melalui Pendidikan Agama,Sosail dan Budaya “ lumangsung poe Saptu 25 Februari 2012 di aula kampus Jl.Soekarno-Hatta No.530 Bandung nu materina didugikeun ku Prof. Dr.H.Yoyo Mulyana,M.Ed jeung Prof.Dr.H.Dedi Mulyasana,M.Pd.

 

Prof.Dr.H.Nanat Fatah Natsir MS:Keberhasilan Pendidikan Sekarang Baru Tahap To Know dan To Do

Maraknya dekadensi moral terutama di kalangan generasi muda acapkali dialamatkan kepada “ kegagalan” sistem pendidikan yang dikembangkan selama ini.yakni efek dari pendidikan yang dirasakan sekarang ini lebih banyak tertumpu pada domain kognitif dan afektif,belum merambah lebih jauh pada domain psikomotorik. Terlepas benar tidaknya sinyalemen tersebut memang perlu dibuktikan dengan penelitian. Tetapi kritik ini seharusnya menjadi bahan perenungan dan percermatan dari kalangan pendidik beserta stakeholdernya guna memperbaiki berbagai kekurangan dan kelemahan dalam dunia pendidikan kita. Demikian dikemukakan Koordinator Kopertais Wilayah II Jawa Barat & Banten periode 2003-2011 Prof.Dr.H.Nanat Fatah Natsir MS mengemukakan kepada Koran Giwangkara saat ditemui di ruang kerjanya Jl.AH.Nasution No.105 Bandung baru-baru ini menjawab pertanyaan mengenai sekitar dunia pendidikan selama ini.. Menurut Nanat ,padahal tujuan proses pembelajaran diorientasikan pada empat hal yaitu To Know (mengetahui), To Do (bisa melakukan/mempraktekkan), To Be (menjadi sesuatu sesuai aksiologi ilmu) dan To Life Together (mampu menterjemahkan dalam kehidupan sosial).

“ Nah selama ini tanpa bermaksud menggeneneralisasikan proses pendidikan yang ada,keberhasilan pendidikan “ hanya” baru mampu pada tahap To Know dan To Do saja. Sementara bekas hasil pendidikan belum nampak dan terasa pada aspek To Be dan To Life Together “. Ujarnya..Oleh sebab itu,katanya,tak mengherankan bila banyak kita temukan orang yang berpendidikan yang tingkat kemamnpuan intelektualnya tinggi,tapi kemampuan emosionalnya rendah dan tingkat sensivitas sosialnya juga lemah. Berkenaan dengan hal itu,maka sudah saatnya kalangan pendidik beserta satakeholdernya memikirkan secara seksama bagaimana mereformulasi sistem pembelajaran dalam pendidikan yang benar-benar mampu memadukan empat tujuan proses pembelajaran tersebut.

Lebih jauh dia menjelaskan bahwa adalah sudah menjadi komitmen bersama,bahwa pendidikan merupakan soko guru dan hal penting dalam upaya meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang unggul,kompetitif dan memiliki daya saing dalam mengisi menyongsong masa depan yang jauh lebih kompetitif. Kendatipun demikian keberhasilan bangsa kita dalam mendongkrak prestasi di bidang pendidikan bukan berarti tanpa kendala dan masalah bahkan anomaly dunia pendidikan kita saat ini menampakkan sejumlah tantangan besar yang harus disikapi dan direspon secara cermat.

Beberapa tangtangan pendidikan saat ini diantaranya ada kecenderungan pergeseran makna pendidikan di masyarakat dalam konteks ini pendidikan selalu dihubungkan dengan seberapa jauh relevansinya dengan dunia pekerjaan . Kecenderungan pergeseran makna pendidikan di masyarakat ini membawa efek pada animo dan peminatan masyarakat terhadap beberapa program studi di perguruan tinggi. Tidak mengherankan,bila di beberapa perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang berlabel agama maupun berlabelkan umum,selalu saja dijumpai ada beberapa program studi yang kekurangan mahasiswanya,fenomena ini tentu saja sebagai akibat pemahaman dan pemaknaan terhadap program studi yang “dianggap” tidak mampu membertikan kepastian dan jaminan pekerjaan bagi lulusannya.

Padahal kita yakin benar bahwa sampai saat inipun belum ada satu program studi dimanapun yang memberikan jaminan dan garansi kepada lulusannya untuk langsung berkerja setelah selesai kuliah. Sebab hakikat dari tujuan pendidikan selalu diarahkan pada terbentuknya kualitas manusia yang cerdas,terampil dan berbudi pekerti luhur.“ Dalam kondisi seperti itu.tugas perguruan tinggi menjadi berat. Ia bukan hanya dituntut untuk menyiapkan kader-kader bangsa yang cerdas,terampil dan berbudi pekerti luhur ,tapi juga harus membekali para mahasiswanya dengan sejumlah keterampilan hidup untuk bisa survive “.ujarnya.

Add comment


Security code
Refresh